Senin, 04 Februari 2008

KEADAAN SIKIKIR

Suatu hari dalam suatu kesempatan di kehidupan Rasulullah saw. ada seorang perempuan datang menemui beliu. Tangan sebelah kanan dari wanita itu terlihat mengecil dan mengering. Waktu ia telah berada dekat dengan Rasulullah, kemudian berkata, "Ya Rasulullah, mohon berdoalah engkau kepada Allah, kiranya Ia dapat berkenan untuk menyembuhkan dan mengembalikan tanganku ini kepada keadaan sebagaimana semula."
Sembari menyampaikan permohonannya, wanita itu memperlihatkan tangan kanannya kepada Rasulullah. Rasulullah memperhatikan sejenak keadaan tangan itu. Tangan itu memang telah mengecil dan tulang-tulangnya terkesan besar dalam pandangan karena mengeringnya daging yang menyelimutinya.
Sejurus kemudian, Rasulullah menanyakan ada hal apa yang telah dialami si wanita sampai-sampai tangannya bisa berujud demikian. "Ada apa denganmu sehingga tanganmu bisa mengering begitu?" Dengan perasaan yang tertekan, berceritalah wanita tersebut perihal pengalaman yang dialaminya.
"Sesungguhnya, pada beberapa malam yang lalu saya bermimpi. Dalam mimpi itu terasa bahwa hari kiamat telah datang. Neraka jahim telah pula dinyalakan. Surga telah disiapkan. Keadaan neraka yang telah penuh dengan lembah-lembah api telah siap sedia menyambut ahlinya. Di salah satu lokasi dari lembah neraka itu, yaitu tempat yang dinamakan Lembah Jahanan, saya melihat seseorang berada di sana. Lama saya amat-amati orang itu. Akhirnya, saya yakin bahwa ia tak lain dari ibu kandung saya. Rupanya kedua tangan ibu sedang memegang sesuatu. Salah satu tangannya terlihat sedang memegang-megang sepotong lemak, sedangkan tangan lainnya memegang sehelai kain. Dan, rupanya kain yang dipegang-pegangnya itu ia jadikan sebagai tameng untuk melindungi tubuh itu dari panasnya api yang menjilat-jilat dari tengah-tengah lembah. Melihat keadaan ibu yang serupa itu, hati saya trenyuh. Tak kuasa saya berteriak kepadanya. 'Ibu...! hai, Ibu...! Tiada patut bagiku melihatmu berada di lembah ini, sedangkan engkau adalah orang yang taat kepada Tuhanmu dan suamimu, juga telah senang, tak membencimu'."
"Rupanya ibu mendengar teriakan saya. Tak lama sahutan dari jawaban Ibu pun terdengar. 'Hai, anak perempuanku! Aku ini ketika masih di dunia adalah seorang yang kikir. Lembah ini merupakan tempat yang diperuntukkan bagi orang-orang yang kikir.' Mendengar jawaban itu itu, rasa ingin tahuku tentang fungsi dari benda-benda yang ada dalam pegangannya itu menggiring saya untuk bertanya lagi. 'Lemak dan kain yang saya lihat ada di tanganmu itu untuk apa?' 'Dua-duanya ini adalah sedekah saya dulu ketika di dunia. Jadi, selama di dunia, saya tak pernah bersedekah apa-apa kecuali kain dan lemak ini. Dan, sekarang dua-duanya itu kubuat berlindung dari api dan siksa terhadap diriku.'
"Demikian jelas ibu kepada saya. Saya terus menanyakan, di mana gerangan ayah sekarang. 'Bakak mana Bu?' 'Dia adalah orang yang dermawan. Jadi, dia sekarang berada di tempat orang-orang dermawan. Beliau berada di surga'."
"Maka, segera saya pergi ke surga. Ayah terlihat sedang berdiri di pinggir telagmu (Muhammad), ya Rasulullah. Dia sedang memberi minum kepada orang-orang dermawan dengan gelas yang diambilkan dari tangan Ali, Usman, Umar, dan Abu Bakar. Abu Bakar dari uluran tanganmu, ya Rasulullah. Lantas, saya berseru kepada ayah. 'Ayah! ibu (istrimu yang taat kepada Tuhannya dan engkau senang kepadanya, sekarang berada di lembah jahanam. Sekarang engkau malah memberi minum kepada orang-orang dengan air telaga Nabi Muhammad saw., padahal ibu sangat dahaga. Ayah, berilah ia seteguk air agar rasa dahaganya hilang'."
"Ternyata ayah mendengar suara saya. Tak lama terdengar sahutan ayah. 'Putriku, ibumu berada di dalam tempat orang-orang yang kikir dan orang-orang yang durhaka di neraka. Padahal, diharamkan air Telaga Muhammad saw. kepada neraka'."
"Mendengar jawaban ayah seperti itu, saya menjadi tak sabar. Lantas, saya ambil saja sendiri segelas air dari telaga itu dan membawanya kepada ibu. Saya minumkan air itu kepada ibu yang sedang menderita kehausan yang hebat karena terus-menerus mendapat sengatan panas. Ibu kemudian meminumnya. Tetapi, sementara ibu melakukan itu, saya mendengar suara yang mengatakan begini, 'Semoga Allah mengeringkan tanganmu, lantaran kamu datang memberi minum air Telaga Muhammad saw. kepada orang yang durhaka lagi kikir'."
"Suara itu ternyata membingungkan saya. Saya tersentak bangun. Dan, tiba-tiba tangan yang menyodorkan minum kepada ibu itu benar-benar mengering dan mengecil."
Mendengar penjelasan yang panjang lebar dari wanita itu, Nabi saw. bersabda kepadanya, "Kekikiran ibumu ternyata membahayakan kamu di dunia. Itu saja di dunia. Lalu bagaimana akibatnya yang menimpa baginya?"
Sesaat kemudian, kata Siti Aisyah (yang meriwayatkan cerita ini), Rasulullah meletakkan tongkatnya di atas tangan kering perempuan tersebut seraya berdoa, "Ya, Allah, demi cerita yang telah diceritakan oleh perempuan ini, maka hendaklah Engkau sudi menyembuhkannya seperti sedia kala." Dengan demikian, tangan kering perempuan tersebut menjadi sembuh seketika seperti semula.
Dalam hadis lain, bersumber dari Aisyah, Rasulullah saw. bersabda, "Orang dermawan itu dekat kepada Allah, manusia, dan jauh dari neraka. Orang kikir itu jauh dari Allah, makhluk, surga, dan dekat kepada neraka. Orang bodoh yang dermawan itu lebih dicintai Allah Ta'ala daripada orang alim yang kikir." Rasulullah saw. bersabda lagi, "Sifat dermawan itu bagaikan pohon di surga yang daun-daunnya terkulai ke dunia. Barangsiapa berpegangan dengan dahan tersebut, maka ia akan terangkat ke surga. Dan, sifat kikir itu bagaikan pohon di neraka yang dahan-dahannya terkulai ke dunia. Barangsiapa berpegangan dahan tersebut, maka akan tersesat ke neraka."

PENCURI BERTAQWA

PENCURI BERTAQWA
Ada seorang pemuda yang bertakwa, tetapi dia sangat lugu. Suatu kali dia belajar pada seorang syekh. Setelah lama menuntut ilmu, sang syekh menasihati dia dan teman-temannya: "Kalian tidak boleh menjadi beban orang lain. Sesungguhnya, seorang yang alim yang menadahkan tangannya kepada orang lain atau orang berharta, tak ada kebaikan dalam dirinya. Pergilah kalian semua dan bekerjalah dengan pekerjaan ayah kalian masing-masing. Sertakanlah selalu ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut."
Maka pergilah pemuda tadi menemui ibunya seraya bertanya: "Ibu, apakah pekerjaan yang dulu dikerjakan ayahku?" Sambil bergetar ibunya menjawab, "Ayahmu sudah meninggal. Apa urusanmu dengan pekerjaan ayahmu?" Si pemuda ini terus memaksa agar diberitahu, tetapi si ibu selalu mengelak. Namun, akhirnya si ibu terpaksa angkat bicara juga, dengan nada jengkel si ibu berkata, "Ayahmu dulu seorang pencuri."
Pemuda itu berkata, "Guruku memerintahkan kami--murid-muridnya--untuk bekerja seperti pekerjaan ayah kami masing-masing dan dengan ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut."
Ibunya menyela, "Hai! apakah dalam pekerjaan mencuri ada ketakwaan?" Kemudian anaknya yang begitu polos menjawab dengan tenang, "Ya, begitu kata guruku."
Lalu dia pergi bertanya pada orang-orang dan belajar bagaimana seorang pencuri melakukan aksinya. Sekarang ia telah mengetahui teknik mencuri. Inilah saatnya beraksi. Dia menyiapkan alat-alat mencuri, kemudian salat Isya' dan menunggu sampai orang-orang tidur. Kemudian dia mulai keluar rumah untuk menjalankan provesi ayahnya dengan penuh ketakwaan, seperti perintah gurunya. Dia mulai dengan rumah tetangganya. Saat hendak masuk ke dalam rumah itu dia ingat pesan gurunya agar selalu bertakwa. Akhirnya rumah tetangga itu ditinggalkannya. Ia lalu melewati rumah lain, dia berbisik pada dirinya, "Ini rumah anak yatim, dan Allah melarang kita makan harta anak yatim." Dia terus berjalan dan akhirnya tiba di rumah seorang pedagang kaya yang tidak ada penjaganya. Orang-orang sudah tahu bahwa pedagang ini memiliki harta yang melebihi kebutuhannya. "Haa, di sini," gumamnya. Pemuda itu segera memulai aksinya. Dia berusaha membuka pintu dengan kunci-kunci yang telah dipersiapkannya. Setelah berhasil masuk, rumah itu ternyata besar dan banyak kamarnya. Dia berkeliling di dalam rumah, sampai menemukan tempat penyimpanan harta. Dia membuka sebuah kotak, didapatinya emas, perak, dan uang tunai dalam jumlah yang banyak. Dia tergoda untuk mengambilnya. Lalu dia berkata, "Eh, jangan! Guruku berpesan agar aku selalu bertakwa. Barangkali pedagang ini belum mengeluarkan zakat hartanya. Kalau begitu, sebaiknya aku keluarkan zakatnya terlebih dahulu."
Dia lalu mengambil buku-buk catatan yang ada di situ dan menghidupkan lentera kecil yang dibawanya. Sambil membuka lembaran buku-buku itu dia menghitung. Dia memang pandai berhitung dan punya pengalaman dalam pembukuan. Dia hitung semua harta yang ada dan memperkirakan berapa zakatnya. Kemudian dia pisahkan harta yang akan dizakatkan. Dia masih terus menghitung dan menghabiskan waktu berjam-jam. Saat menoleh, ternyata fajar telah menyingsing. Dia bicara sendiri, "Ingat takwa kepada Allah! Kau harus salat subuh dulu!" Kemudian dia keluar menuju ruang tengah, lalu berwudu di bak air untuk selanjutnya melaksanakan salat sunnah. Tiba-tiba tuan rumah itu terbangun. Dilihatnya dengan penuh keheranan, ada lentera kecil yang menyala. Dia lihat juga kotak hartanya dalam keadaan terbuka serta ada orang yang sedang melakukan salat. Istrinya bertanya, "Apa ini?" Dijawab oleh suaminya, "Demi Allah, aku juga tidak tahu." Lalu dia menghampiri si pencuri itu, "Kurang ajar, siapa kau dan ada apa ini?" Si pencuri berkata, "Salat dulu baru bicara. Ayo pergilah wuduk lalu salat berjamaah. Tuan rumahlah yang berhak menjadi imam."
Karena khawatir pencuri itu membawa senjata, si tuan rumah menuruti kehendaknya. Tetapi--wallahu a'lam-- bagaimana dia bisa salat dengan khusyu'. Selesai salat dia bertanya, "Sekarang coba ceritakan, siapa kau dan apa urusanmu?" Dia menjawab, "Saya ini pencuri." "Lalu apa yang kau perbuat dengan buku-buku catatanku itu?" tanya tuan rumah lagi. Si pencuri menjawab, "Aku menghitung zakat yang belum kau keluarkan selama enam tahun. Sekarang aku sudah menghitungnya dan juga sudah aku pisahkan agar kau dapat memberikannya pada orang yang berhak." Hampir saja tuan rumah itu dibuat gila karena terlalu keheranan. Lalu ia berkata, "Hai, ada apa denganmu sebenarnya. Apa kau ini sudah gila?"
Mulailah si pencuri itu bercerita dari awal sampai akhir. Setelah tuan rumah itu mendengar ceritanya dan mengetahui ketepatan serta kepandaiannya dalam menghitung, juga kejujuran kata-katanya, serta mengerti akan manfaat dan kewajiban zakat, dia pergi menemui istrinya. Mereka berdua mempunyai seorang anak gadis. Setelah keduanya berbicara, tuan rumah itu kembali menemui si pencuri, lalu berkata, "Bagaimana sekiranya kalau kau kunikahkan dengan putriku. Aku akan angkat engkau menjadi sekretaris dan juru hitungku. Kau boleh tinggal bersama ibumu di rumah ini." Ia menjawab, "Aku setuju." Di pagi harinya tuan rumah memanggil para saksi untuk acara akad nikah putrinya dengan si pemuda itu. Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

UMAR BIN KHATAB

Al Faruq, atau Sang Pembeda, adalah gelar yang diberikan Rasulullah untuk Umar bin Khattab, khalifah kedua ummat Islam setelah Abu Bakar As-Shiddiq. Kali ini kita telusuri, siapa Umar bin Khatab sehingga diberi gelar al-Faruq ini.
Umar dilahirkan di Mekkah, sekitar 10 tahun setelah kelahiran Rasulullah, dari keluarga Quraish 'Adi. Keluarga 'Adi adalah satu dari 10 keluarga asli Quraish yang menetap di Mekkah. Keluarga 'Adi berasal dari 'Adi bin Ka'ab, seorang diplomat kaum Qurasih Mekkah pada zaman itu. Umar bin Khatab adalah generasi kedelapan dari 'Adi bin Ka'ab.
'Adi bin Ka'ab adalah anak dari Ka'ab bin Lu'ay, nenek moyang generasi kedelapan dari Rasulullah Muhammad SAW. Jadi, Umar bin Khatab dan Muhammad SAW memiliki tali darah famili yang sama pada nenek moyang kedelapan mereka.
Ayah Umar adalah Khatab bin Nufail, seorang yang dipandang di keluarga 'Adi. Ibunya adalah Khantamah binti Hisham bin Mughirah. Mughirah adalah salah satu tokoh penting suku Quraish, dia sering memimpin pasukan Qurasih dalam peperangan. Sementara anaknya, Hisam bin Mughirah, adalah kakek Umar dan juga kakek Khalid bin Walid, Jenderal Perang Kafir Quraish yang memimpin mengalahkan pasukan Muslim di perang Uhud dan kemudian pada akhirnya menerima hidayah Islam. Jadi, Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid adalah saudara sepupu.
Khantamah punya seorang saudara laki-laki, bernama Amr bin Hisham bir Mughirah atau lebih dikenal dengan Abu Jahal - jadi Abu Jahal adalah paman Umar. Salah satu saudara perempuannya adalah Ummi Salma, yang kemudian menjadi istri Rasulullah SAW.
Khatab bin Nufail memiliki beberapa anak, yang terkenal adalah Umar, Fatima, Zaid (saudara seayah lain ibu). Cinta Umar kepada Zaid tidak berbeda kepada adik kandungnya Fatima. Saat Zaid gugur dalam Perang Yamama (di zaman Kalifah Abu Bakar), Umar sangat bersedih dan berkata, "Apabila angin berhembus dari Yamama, akan mengingatkan saya pada bau harum adikku Zaid".
Sebelum memeluk Islam, Umar memiliki tiga istri. Istri pertamanya adalah Qriba binti Abi Umayya Makhzumi, salah seorang perempuan tercantik di Mekkah pada saat itu dan berasal dari keluarga yang sama dari Khantamah (ibu Umar). Istri keduanya adalah Zainab binti Maziun, saudara perempuan Usman bin Affan Dari Zainab ini, Umar mendapatkan anak Abdullah dan Hafsah (yang kemudian menjadi istri Rasulullah Muhammad SAW). Istri ketiganya adalah Malaika binti Jarul Khuzai, atau lebih terkenal dengan nama Ummul Kulsum.
Umar dikaruniai tubuh yang tinggi dan besar, bahkan untuk ukuran orang Arab sekalipun. Kalau ditengah-tengah keramaian, maka sangat gampang mencari Umar karena pundak sampai ke kepalanya tersembul di antara orang-orang disekitarnya. Tidak hanya itu, Umar memiliki tenaga yang kuat yang menurut riwayat sama dengan kekuatan 20 orang dewasa saat itu. Umar adalah juara langganan gulat di semacam pasar malam yang merupakan tradisi di Mekkah saat itu.
Khattab mendidik Umar dengan keras, tegas, dan disiplin. Pada masa itu hanya sedikit sekali yang bisa tulis-baca, dan Umar adalah salah satu dari yang sedikit itu. Umar mengetahui banyak sejarah Arab dan juga ilmu binatang. Umar pandai berbicara di depan orang banyak, dia dikaruniai suara yang berat dan berwibawa. Ini menggambarkan bahwa Umar adalah anak Quraish yang cerdas.
Selain itu, Umar memiliki rasa setia kawan yang tinggi. Kepeduliannya kepada keluarga dan teman-temannya menjadikan dia sebagai seorang teman terbaik dan musuh paling menakutkan - tidak ada orang yang ingin berada di pihak yang bertentangan dengan Umar. Umar adalah satu-satunya orang yang selalu siap berperang kapan dan di mana saja. Namun, Umar tidak memiliki hasrat untuk menjadi raja. Ketaatannya pada agamanya membuat dia tetap patuh pada pemimpinnya saat itu.
Kuat, cerdas, keras, tegas, setia kawan, dan taat adalah karakter Umar yang menjadi kebanggakan keluarga 'Adi dan suku Quraish pada umumnya. Saat Rasulullah mulai menyebarkan Islam, Umar adalah penghalang yang paling dahsyat. Kaum muslimin saat itu menderita karenanya, di sisi lain Quraish merasa sangat terbantu oleh kehadiran Umar. Oleh karena itulah, Rasulullah memilih untuk berdakwah dan beribadah diam-diam untuk menghindari kezaliman Umar bin Khattab dan kafir Quraish lainnya.
Namun, Rasulullah atas petunjuk Allah mengetahui Umar lebih daripada yang lain. Rasulullah menyadari keistimewaan Umar, sebagaimana dia juga menyadari kelebihan 'Amir bin Hisyam (Abu Jahal) yang merupakan pemimpin bangsa Quraish di Mekkah saat itu. Oleh sebab itu, Rasul pernah bermohon kepada Allah agar Dia sudi menolong perjuangan Islam dengan salah seorang yang lebih disukaiNya, antara dua "'ain mim ra", yaitu Umar atau 'Amir.
Doa Rasul akhirnya dijawab Allah. Begini ceritanya.
Islam datang ke Umar tidak dengan cara langsung, melainkan lewat kerabat-kerabat dekatnya yang satu per satu "jatuh" ke agama yang diridhoi Allah SWT.
Anak Abu Jahal, Zaid bin 'Amir bin Hisyam, adalah seorang penyair dan termasuk kaum yang menunggu-nunggu janji Allah tentang kedatangan nabi terakhir yang akan menyempurnakan agama yang dibawa Nabi Ibrahim a.s. Dalam sebuah syairnya, Zaid bin 'Amir berkata
Saya hanya percaya pada satu Tuhan,Saya tidak percaya pada ribuan tuhan-tuhan.Saya abaikan berhala Latta dan Uzza,seorang yang bijak dan seorang yang berbahaya bisa melakukan lebih daripada mereka (berhala).
Khattab bin Nufail membunuh Zaid karena keyakinannya itu. Zaid meninggal sebelum Muhammad SAW menerima wahyu pertama. Setelah Muhammad SAW menerima kerasulannya, anaknya yang bernama Said bin Zaid bin 'Amir bin Hisyam adalah termasuk yang golongan yang pertama menerima kerasulan Muhammad dan Islam sebagai agama yang benar. Said bin Zaid saat itu adalah suami dari Fathima binti Khattab yang juga golongan pertama yang menerima Islam. Namun, Umar belum mengetahui keislaman mereka.
Kemudian, Lubna, budak Umar, menerima Islam. Saat Umar mengetahui keislaman Lubna, disiksanya Lubna dan diperintahkan Lubna untuk kembali ke agama tradisi Quraish. Lubna menjawab bahwa Umar bisa saja membunuhnya tapi dia tidak akan meninggalkan Islam. Umar kaget, tapi amarahnya sudah menjadi-jadi dan membuat keputusan akan terus memukul Lubna sampai dia capek. Meskipun demikian, Lubna tetap menjadi budak yang loyal kepada Umar.
Setelah itu, Ummul Abdullah binti Khatamah, seorang saudara perempuan Umar, juga menerima Islam. Umar sangat kecewa dengan keputusannya. Saat Ummul Abdullah hendak pindah ke Abyssina bersama para muslimin yang lain, Umar mengunjunginya dan bertanya: "Wahai Ummul Abdullah, hendak kemana kamu?" Ummul Abdullah menjawab, "Demi Allah, kamu sudah membuat hidup kami menderita di Mekkah. Tidak ada pilihan bagi kami selain pindah ke tempat lain." Umar, tanpa ada tanda-tanda mendebat, berkata "Semoga Allah melindungimu, pergilah dengan tenang." Pada saat itu, Ummul Abdullah merasakan bahwa meskipun Umar sangat menentang Islam, tapi pada suatu saat dia akan menerimanya.
Pada suatu kesempatan, Umar melihat Rasulullah sedang di dekat Ka'bah dan membacakan beberapa ayat dari Al Quran. Umar mencuri dengar dan dia pikir ayat-ayat yang dibacakan Rasul adalah puisi karya pujangga hebat. Saat itu juga, Rasul mengulangi ayat-ayat itu dan mengatakan bahwa ayat-ayat ini bukanlah puisi karya pujangga, melainkan perkataan Allah yang disampaikan lewat Malaikat Jibril." Umar terpana, dalam hatinya tersebit pemikiran mungkin saja apa yang disampaikan Muhammad SAW itu adalah benar.
Umar mengabaikan perasaan itu dan memilih untuk berkonsultasi dengan para pemimpin Quraish. Diadakan rapat mendadak yang dihadiri oleh tokoh-tokoh penting di suku Quraish. Keputusannya adalah penyebaran agama Islam harus dihentikan dan Muhammad harus dibunuh. Dicarilah sukarelawan yang bersedia dan mampu untuk itu. Umarpun mengajukan diri.
Saat itu, di suatu hari yang panas pada tahun 616 Masehi, Umar menyandang pedangnya dan bersiap membunuh Rasulullah. Dalam perjalanannya menuju rumah Rasul, Umar bertemu dengan Nu'aim bin Abdullah, salah seorang teman akrab Umar. Nu'aim juga sudah menerima Islam saat itu, tapi Umar belum tahu.
Nu'aim melihat wajah Umar yang tegang, diapun bertanya. Umar menjawab bahwa dia sedang menuju ke rumah Muhammad untuk membunuhnya. Nu'aimpun menjawab, "Hati-hati. Kalau kamu sakiti Muhammad, maka kamu berurusan dengan keluarga Hashim. Kamu tanggung sendiri akibatnya!" Umar marah, "Rupa-rupanya kamu juga sudah menjadi Muslim, ha!?" Nu'aim menjawab, "Umar, jangan pikirkan saya, tapi kamu pikirkan dulu adikmu dan adik iparmu yang dua-duanya sudah memeluk Islam jauh-jauh hari, dan mungkin mereka sedang membaca Quran saat ini."
Umar kaget, digantinya arah jalannya dari semula ke rumah Muhammad SAW menuju rumah Said bin 'Amir. Umar sangat sayang pada Fathima dan suaminya. Dia masih bisa menerima kenyataan budaknya dan saudaranya menerima Islam, tapi tidak pernah terpikir olehnya adik kandungnya memeluk Islam. Dia tidak mau mempercayai berita ini, tapi ada keraguan dalam hatinya bahwa berita itu bohong.
Sesampainya di rumah Said, Said da Fatima sedang membaca Quran yang ditulis di daun-daun korma. Umar yang sudah ada di luar mendengar sayup-sayup sebelum akhirnya diketoknya pintu.
"Siapa?" tanya Said,"Bukakan pintu, ini Umar!" teriak orang yang di luar.
Said dan Fathima kaget dan ketakutan. Sementara Said membukan pintu, Fathima menyembunyikan daun-daun bertuliskan ayat-ayat Quran tersebut. Umar masuk menyingkirkan Said, Fathima menyongsong dan tersenyum. Wajah Umar merah karena marah, dia bertanya dengan suara menggelegar:
"APA YANG SEDANG KALIAN BACA!""Tidak ada," balas Fathima.
"Saya dengar berita bahwa kalian sudah memeluk Islam, katakan bahwa berita ini bohong!""Apa pendapatmu, wahai Umar, sekiranya kebenaran itu ada di pihak mereka?" balas Said.
Umar langsung mencengkram leher Said dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas. Fathima berkata, "Lepaskan tanganmu dari suamiku. Jika kamu ingin mengatakan sesuatu, katakan pada saya, tapi jangan sentuh suamiku!"
Umar bertanya, "Katakan, apakah benar kalian sudah menjadi muslim?"Fathima menjawab, "Ya, kami sudah menjadi muslim. Kamu bisa saja membunuh kami jika kamu suka, tapi kami tidak akan mengganti keimanan kami."
Umar tertegun, kalimat yang sama didengarnya saat dia mengancam Lubna budaknya, dan keteguhan yang sama dia dengar dari saudara perempuannya. Dilepaskannya Said.
"Kalau begitu, perlihatkan daun-daun yang kamu sembunyikan itu kepada saya sehingga saya bisa melihat isinya," pinta Umar."Tidak, badanmu kotor, mandilah terlebih dahulu," ujar Fathima.
Entah kenapa, Umarpun menuruti. Selesai mandi, diterimanya daun-daun bertuliskan ayat-ayat Quran itu dari Fathima. Dibacanya keras-keras,
Taa Haa,Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah;tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.(yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah yang bersemayan di atas Arsy.KepunyaanNyalah semua yang ada di langit dan di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.Dialah Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Dia mempunyai nama-nama yang baik (asmauul husna)
Dibacanya surat itu berkali-kali sampai dia jatuh tersungkur. Dia merasa ayat-ayat itu ditujukan khusus untuk dia, dengan Taa Haa merujuk kepada seorang kafir Umar. Umar tiba-tiba merasakan ketakutannya pada Allah, hatinya berbisik "Wahai Umar, sampai kapan kamu akan tetap mengingkari jalan yang kamu sendiri mengetahui kebenarnnya. Apakah belum datang waktu bagimu untuk melihat kebenaran?"
Umar bangkit dan berkata kepada Said dan Fathima, "Saya tadi datang sebagai musuh Islam. Sekarang saya akan pergi sebagai sahabat Islam. Pedang ini tadinya untuk membunuh Muhammad, sekarang saya sarungkan. Tunjukkan kepada saya, di mana Muhammad sekarang berada. Saya hendak menemuinya."
"Allahu Akbar..." tangis Said dan Fathima.
Umar bergegas melangkahkan kakinya ke rumah Arqam, seorang sahabat yang rumahnya sering dipakai Rasul untuk berkumpul dengan muslim yang lain. Umar mengetok pintu.
"Siapa?" tanya seseorang dari dalam."Umar bin Khattab," jawabnya dengan lantang.
Orang-orang yang berkumpul di dalam heboh. "Umar datang... Umar datang..., apa yang akan terjadi gerangan?" Seseorang mengintip keluar, dilihatnya Umar dengan pedang tersandang dipinggangnya. Dia pun enggan membuka pintu.
Hamzah, paman Muhammad SAW, berkata, "Bukakan pintu; jika dia datang dengan maksud baik, kita terima. Kalau dia ingin membuat huru-hara, saya percaya kita bisa mengalahkannya bersama-sama."
Pintu dibuka, Umar masuk.
"Hai Umar, apa perkara yang membawamu ke sini?" tanya Hamzah. Para muslim yang lain bersiap-siap mencabut pedang kalau-kalau Umar tiba-tiba membuat keonaran.
Mendengar keributan, Rasulullah keluar dari biliknya dan berkata, "Jangan ganggu dia, biarkan dia maju."
Umar maju menghampiri Rasulullah dan Rasulullahpun bertanya, ""Wahai Umar, sampai kapan kamu akan tetap mengingkari jalan yang kamu sendiri mengetahui kebenarnnya. Apakah belum datang waktu bagimu untuk melihat kebenaran?"
"Benarlah waktu sudah datang bagi saya untuk melihat kebenaran. Saya datang ke sini untuk mengikrarkan keimananku dalam Islam," jawab Umar.
Rasulullah mengenggam tangannya, Umar berkata dengan suara yang bergetar "Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusannya...." Dan Umarpun menjadi orang keempat puluh yang masuk Islam.
Kaum muslimin yang hadir dalam majelis saat itu heboh, Allahu Akbar bergema di setiap pojok ruangan. Satu per satu datang menghampiri Umar dan menyelamatinya.
Kegembiraan tidak hanya dimiliki kaum muslim saja. Malaikat Jibril datang dan berkata pada Rasulullah, "Oh Kekasih Allah, para penghuni sorga bergembira dengan kedatangan Umar dalam Islam dan mereka mengucapkan selamat kepadamu."
Sesaat Umar masuk Islam, dia datangi beberapa petinggi Quraish yang sebelumnya memberikan titah kepadanya untuk membunuh Muhammad SAW. Petinggi pertama yang dia datangi adalah pamannya, Abu Jahal.
"Siapa?" tanya Abu Jahal."Ini Umar," maka Abu Jahal membukan pintu.
"Mari masuk, ponakanku. Ada apa gerangan?""Pamah, tahukah kamu bahwa sekarang saya muslim?
"Jangan berbicara seperti itu. Saya tahu kamu adalah orang yang tidak mungkin masuk Islam.""Tidak Paman. Saya adalah muslim sekarang."
Abu Jahal dalam kekagetan bercampur ketakutannya mengusir Umar. Dan semua pemimpin Qurasih yang didatangi Umar pun mengusir Umar dalam kaget dan takut mereka.
Itulah Umar. Di saat kaum muslimin menyembunyikan keimanan mereka, Umar terang-terangkan menyatakan keislamannnya bahkan langsung di depan para pemimpin Quraish.
Tidak hanya itu, Umar kemudian mendatangi tempat-tempat yang biasa dia datangi saat masih kafir dan berbuat lalim. Di sana dia ikrarkan keislamanannya dan meminta teman-teman permainannya untuk berhenti berbuat lalim dan mengikutinya.
Pada suatu kesempatan, Umar bertanya pada Rasulullah,
"Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di pihak yang benar?""Benar, ya Umar. Kita berada di pihak yang benar.""Kalau begitu, kenapa kita harus bersembunyi-sembunyi? Kenapa kita tidak beribadah di depan orang banyak dan mendeklarasikan Islam terang-terangan kepada mereka?"
Tidak berapa lama, turunlah ayat ke-97 dari Surat Al Hijr:
Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.
Maka keluarlah para muslimin dari rumah Arqam dalam dua barisan, satu dipimpin Umar dan yang lain dipimpin Hamzah, bergerak menuju Ka'bah. Di depan Ka'bah, Rasulullah memimpin muslimin beribadah disaksikan orang-orang kafir Quraish. "Celakah kita dengan masuknya Umar dalam Islam. Sekarang giliran kita yang akan dihajar oleh Umar..." pikir sebagian mereka.
Setelah ibadah pertama kali di Ka'bah itulah Rasul memberikan julukan al-Faruq kepada Umar bin Khattab.
Masuknya Umar ke dalam Islam benar-benar memberikan perbedaan yang sangat berarti dalam perjuangan Islam. Tidak salah memang, Rasul menyandangkan nama al-Faruq kepadanya, karena dia benar-benar sang Pembeda keadaan.
Posted in
Cerita Nabi, Rasul, dan Sahabat 2793 reads »

Abu Rafdi Says:Sun, 2006-02-12 19:59
Sebilah pedang menggores sepotong tulang binatang dan terciptalah garis lurus di atasnya. "Berikan tulang ini kepada Amru ibn Ash dan sampaikanlah kepadanya bahwa setelah kematian ia akan menjadi tulang, maka selaku pemimpin berlakulah adil dan lurus seperti lurusnya goresan garis di atas tulang ini. Jika ia tidak berlaku adil, pedang Umar-lah yang akan meluruskannya"
Itulah perkataan Umar ibn Khattab dengan seorang Yahudi yang mengadu kepada Umar Sang Khalifah karena rumahnya akan digusur oleh Amru ibn Ash, Gubernur Mesir, untuk pembangunan sebuah masjid. Atas keadilan Islam tersebut, Sang Yahudi kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat.
Kisah di atas saya dengar kurang lebih 18 tahun lalu dalam ceramah Da'i Sejuta Umat Zainuddin MZ.
Itulah Umar ibn Khattab, yang salah satu keturunannya pun menjadi pemimpin yang adil, yaitu Umar ibn Abdul Aziz
reply »
Abu Lala wal Malik Says:Wed, 2006-02-15 14:16
Sebuah kisah yang sangat penting, untuk memahami perbedaan antara jiwa yang berserah diri dan jiwa yang masih ingkar. Dan ini akan membawa kita kepada pemahaman akan esensi dari keimanan itu. Khususon lagi, untuk memahami jiwa kita sendiri.
Kisah Umar memeluk Islam di atas memperlihatkan bahwa penanaman benih iman itu adalah hak prerogatif Allah. Ketika diajak, Umar menolak. Namun ketika adiknya pasrah, Umar menerima. Pada saat itu, benih iman telah ditanamkan ke dalam diri Umar oleh Allah. Umar pun tersungkur, tanpa harus tahu atau menerima terlebih dahulu keenam rukun iman. Kun fayakun, iman pun tertanam di dada Umar.
Apa yang terjadi selanjutnya, menjadi pelajaran penting bagi kita untuk mengenali bagaimana 'iman' itu bekerja. Sifat-sifatnya, atributes, properties,... Ibarat kita tidak bisa melihat atom, tetapi kita bisa mempelajari atom dari jejak yang ditinggalkannya.
Dia membuat fisik, hati dan pikiran tunduk patuh, berangkat dan berakhir kepada Yang Esa, seperti sebuah lingkaran yang sempurna. Bukan berarti perjuangan Umar untuk menumbuhkan iman itu tanpa ujian. Dia pun manusia, sama seperti kita, bahkan dengan sifat yang tegas dan keras. Dan sifat kerasnya ini pula yang hampir-hampir membuat dia tidak percaya, ketika Rasul meninggal, sehingga dia siap membunuh siapapun yang mengatakannya. Namun ketika Abu Bakar menyentuh langsung iman dalam hatinya, Umar pun lulus dalam ujian yang teramat pahit itu.
Benih iman menjadi potensi dalam diri. Dia akan semakin subur, melalui berbagai pupuk penderitaan dan ujian. Bersyukurlah anda, yang jiwanya sedang didera derita. Sebentar lagi akan tumbuh sebuah cabang rindang pohon iman.

Anakku dirampas karena aku memilih islam

Kalau bukan karena kemurahan Allah, sudah gila aku menghadapi liku-liku perjalanan nasib. Murka keluarga, cacian sanak kerabat, cemoohan teman, memberondongku tanpa ampun. Bak anjing kurapan pembuat onar, ali disiksa sadis. Bahkan selembar selembar nyawa ini nyaris hilang. Muaranya satu, karena aku masuk Islam.Mulanya memang aku seorang Katolik taat. Orangtuaku pimpinan dewan gereja. Mereka terpandang dan sangat dosegani. Bukan status sosialnya saja yg membuat pamor tersohor, tapi juga kekayaan yang kami miliki. Banyak orang menjuluki kami tuan tanah. Gemilang kemewahan membuat pribadiku keras hati. Apa saja mauku selalu ingin dituruti. Tapi, lama lama hatiku meradang. Tanpa tahu penyebabnya, aku kerap dilanda perasaan resah. Bosan. Tidak bersemangat. Persaan tak karuan itu kontan berpengaruh pada seluruh kegiatanku. AKu jadi suka bolos sekolah dan malas kegereja, Sampai guru dan teman teman mencapku anak nakal. Padahal sebenarnya aku sering menyendiri. Ingin mencari jati diri.Hingga suatu saat, aku disadarkan pada sebuah takdi yang harus kuterima. Aku seringkali didatangi mimpi mimpi aneh. Keanehan mimpi itulah yang akhirnya membuat perubahan besar dalam hidupku.HIDAYAH LEWAT MIMPILelaki paruh baya berbaju dan bersorban putih dengan selendang hijau tiba tiba muncul dalam mimpiku. Dia menanti dipertigaan jalan yang biasa kulewati menuju gereja. "Nak, jalan kamu bukan kesitu!" tegurnya. Lalu dia tunjukkan sebuah jalan lurus yang bercahaya. Setiap kali mau melangkah, ada telapak tangan bertuliskan Lafaz Allah.Ugh.. untung cuma mimpi. Sebagai orang Katolik, aku khawatir dengan mimpi ini. Namun ternyata malam malam berikutnya, mimpi yang sama terulang lagi. Sejak saat itulah aku dilanda perasaan aneh. Semacam dis-orientasi. Aku enggan bersekolah. Ke gereja pun tidak sama sekali. Anehnya aku malah penasaran terus mengenal Islam.Mimpi senada terus mendatangi selama setahun lebih. Bahkan suatu ketika, setiap mau tidur, di dalam kamarku sering kudengar orang sholawatan, qasidahan, serta segala ritual lain yang biasa dikerjakan umat Islam. Penasaran, lalu kutanyakan pada orang seisi rumah, apakah mereka mendengar seperti yang kudengar. Ternyata tidak. Malah ketika kuceritakan mimpi-mimpi anehku, mereka mengatakan bahwa mungkin leluhurku yang beragama Islam sedang kangen padakui.Aku tak digubris. Sementara mimpi anehku datang lagi. Kali ini aku dikasih jubah putih. "Pak, saya kan Katolik, bagaimana mungkin saya Shalat?" tanyaku. Lelaki itu lalu mengajakku ketanah lapang. Disana banyak sekali orang berpakaian serba putih. Oleh lelaki itu aku diajarkan membaca Al-Qur'an, dituntun mengucapkan Dua Kalimat Syahadat. Herannya dengan pasrah kurelakan diriku melakukan semua itu."Pegang tongkat ini nak, bimbing orang-orang itu pergi Haji!", pesanya. Hatiku dilanda ketakutan luar biasa. Tak lama kudengar azan. Badanku bergetar menggigil. Setelah azan, dalam mimpi itu kubaca surah Yaasin.Apa sebenarnya maka mimpi itu? Dalam mimpi aku diajarkan membaca Al-Qur'an, begitu terjaga benar benar bisa kubuktikan bahwa aku bisa. Subhanallah... Hatiku yang lusuh kontan terang.Ada perasaan pedih jika aku meninggalkan shalat. Sementara kalau tidak kegereja, hati ini biasa biasa saja. Perasaanku kini gampang melunak, mudah tersentuh, padahal sebelumnya sangat egois. Hati jadi lembut. Mengapa bisa hanya dengan mempelajari buku-buku Islam aku berubah seperti ini? Sekonyong konyong aku menjadi pribadi penuh santun dan menghormati orang lain.BABAK AWAL PENYIKSAAN ITUSejak itu kudalami Islam. Kubeli buku buku tuntunan ibadah, beberapa kaset ceramah K.H. Zainudin MZ yang waktu itu jadi trend, serta sebuah jilbab. Tentu saja kegiatan baru itu ini kulakukan tanpa sepengetahuan keluarga. Aku sangat menikmatinya. Maka lama-kelamaan sudah bisa kulaksanakan sholat, puasa, bahkan berjilbab.
Syahdan aku menjadi muslim sebelum aku benar-benar sah sebagai seorang muslim. Inikah hidayah itu?Interesku akan jilbab ini memicu tindakan yang lumayan ekstrim. Alu sering datang ke mesjid layaknya seorang muslimah. Aku ingin bertanya pada orang-orang disana tentang tata cara gerakan sholat. Aku tahu tindakan ku bakal menuai resiko besar. Kalau sampai penyemaranku sampai terbongkar, aku pasti dibunuh.
Tapi kawan, tidak bisa kugambarkan perasaan ini ketika aku telah mengenal Islam. Ketika aku membawa AL-Qur'an, Tasbih, Yaasin, hatiku tenang. Relung hatiku syahdu.Untuk mempelajari Islam lebih lanjut, kudatangi sanak kerabat yang muslim. "Bisa gila aku kalau sampai tidak bisa masuk Islam, kak!" kataku kepada mereka. Malangnya, reaksi mereka diluar dugaanku. Tak satupun yang percaya bahwa aku ingin masuk Islam. Mungkin karena keluargaku termasuk keluarga Katolik berpengaruh, mereka tak mau ambil resiko jika harus menampungku.Serapat rapat bangkai ditutup pasti akan tercium juga. Saat pembagian raport, 'aktivitas baruku' akhirnya terbongkar. Pasalnya pihak sekolah memberitahu orangtuaku bahwa aku nunggak bayar SPP berbulan-bulan. Belum lagi aku sering bolos sekolah. Aku di interogasi. Aku bersikukuh tidak menceritakan aktivitasku yang sedang mendalami Islam.Hingga suatu ketika aku berpapasan dengan teman kakakku dijalan. Dia mengamatiku penuh selidik. Sebab waktu itu aku sedang berjilbab. Jujur aku gugup. Takut ketahuan. Ternyata benar firasatku. Saat tiba dirumah, aku langsung babak belur dihantam oleh kakakku yang kebetulan seorang tentara.Masya Allah. Inilah awal petaka itu. Seperti orang kesurupan , tubuhku dihujani pukulan dan tendangan. Aku roboh. Sepatu laras dengan tubuh besarnya menginjak tubuhku yang tak berdaya. Dari ujung rambut sampai kaki. Oh Tuhan. Sakit sekali. Darah bereceran. Aku pingsan. Bibirku robek. Badanku biru lebam.Celakanya tidak satupun yang mau melindungiku. Malah mereka menggeledah kamarku. Mereka temukan semua "simpananku", Al-Qur'an, buku-buku tuntunan ibadah, tasbih, sajadah. Mendapatkan itu semua, kakakku yang kejam makin blingsatan menyiksaku.Allahui Akbar. Tubuhku tak kuat lagi. Tapi hei, anehnya nyaliku ini sama sekali tak ciut. Semakin keras sikasaan menimpaku, semakin aku merasa punya kekuatan."Ananda ingin masuk Isam..." pintaku lirih dengan suara parau."Gila kamu! Sinting!! Otakmu sudah tidak waras!! teriak saudara saudaraku. Bak pencuri yang tertangkap basah, aku jadi bulan bulanan. Yaa Allah! Tolong aku!MALAIKAT PENOLONGMereka menduga aku dipengaruhi oleh seseorang. Untuk anak sebayaku yang sedang ranum begini, jejaka mudalah yang jadi sasaran curiga mereka. Dikiranya aku sedang menjalin kasih dengan seorang pemuda muslim. Padahal pacaranpun aku tidak pernah.Sejak peristiwa itu aku dikurung. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, mereka menegorku, Pukulan bak suguhan makanan. Dalam satu minggu, kadang lebih dari 20 kali kakakku menyiksaku. Tapi masya Allah, semakin aku ditekan begitu, keinginanku masuk Islam malah semakin kuat. Ketenangan dan kedamaian yang kutemukan dalam Islam membuatku mudah berbesar hati.Satu satunya cara agar aku lepas dari cengkeraman keluarga adalah keluar dari rumah. Kuutarakan pada keluarga bahwa aku ingin melamar kerja disebuah perusahaan besar. Padahal yang terpikir olehku adalah melamar jadi pembantu. Entah kenapa mereka membiarkan aku melenggang.Jauh dari rumah kurasakan kebebasan nyata. Tapi aku belum juga melaksanakan niatku untuk masuk Islam. Sampai akhirnya aku bertemu dengan seorang pria. Dia seorang Intel. Kayaknya bertemu kawan lama, kuceritakan keinginanku masuk Islam dan penyiksaan keluarga.Dia sangat terkejut. Sadar akan bahaya yang mengintaiku setiap saat, dia menawarkanku untuk pergi kekapmpung halamannya. Disana aku ditempatkan disebuah pondok pesantren. Dan atas bombingan tokoh agama setempat akhirnya aku dibimbing mengucapkan Dua Kalimat Syahadat.MEREKA MERAMPAS ANAKKURupanya lelaki yang menolong itu ditakdirkan Allah menjadi suamiku. Beberapa bulan kemudian kami menikah. Dan tak lama kami dikaruniai anak. Aku hamil. Melihat kebahagiaan ini, menyarankan agar aku silaturahmi mengunjungi orang tua dan sanak keluargaku. Mungkin dengan kehadiran anakku nanti hati mereka lunak.Aku pulang seorang diri karena suami sedang ditugaskan keluar daerah. Begitu sampai dirumah, ternyata drama penyiksaan itu kembali disuguhkan. Aku dikurung hingga waktu melahirkan. Kondisiku yang berbadan dua ternyata tidak mengibakan hati mereka. Bahkan ketika aku berhasil melahirkan, anakku langsung direbut.Kawan, hati ibu mana yang rela dipisahkan dari anaknya. Tak boleh aku berdekatan dengan anakku. Bahkan untuk menyusui sekalipun. Selama aku tidak mau ke gereja tak akan ada kesempatan menimang anakku."Apa kamu bisa besarkan anak padahal kamu kere!" Begitu jawaban saudara saudaraku jika aku meminta anakku. Hatiku remuk redam.Mereka kembali mengejekku, menertawakanku. "Rasain, siapa suruh masuk Islam!" Kesalahan sedikit yang kubuat selalu dijadikan senjata oleh mereka untuk mengintimidasiku. Bahkan saat anggota keluarga yang lain yang melakukan kesalahan, tetap kesalahan dituduhkan padaku. Mereka ciptakan jarak, sepertinya aku ini tak pantas berada ditengah tengah mereka.Sampai suatu ketika ada kesempatan untuk kali kedua, aku kembali berhasil kabur. Walau harus kutinggalkan anakku. Kelak jika Allah mengizinkan aku akan menjemputnya.Saat itu sedang ramai ramainya orang mendaftarkan diri sebagai TKW. AKu ikut mendaftar dengan harapan bisa dibawa pihak perusahaan pergi jauh.SUAMI SELINGKUHAku kembali ke kampung halaman suamiku. Namun mertuaku kecewa karena tak bisa melihat cucunya. Sementara suami yang sedang tugas di rantau tak juga kembali. Malah kudengar kabar suamiku selingkuh. Aku berusaha sabar. Apapun yang terjadi. Alhamdulillah, akhirnya rumah tangga kami selamat. Bahkan tak berapa lama kami dikarunai beberapa anak.Namun itu tak lama. Suamiku kambuh lagi. Bahkan lebih parah. Dia jarang pulang. Sering menginap dirumah kos wanita simpanannya. Padahal aku sedang hamil lagi. Ya Allah, semoga ujian ini menjadi jalan agar kau tambah sayang padaku!.Aku jalani kehidupan rumah tangga seperti biasa. Aku berusaha tak mau tahu walaupun tahu. Namun aku tak mau dibuat bimbang, apakah suami menceraikanku atau tidak. Akhirnya, kutemui suami ditempat simpanannya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kudapati suami sedang tidak berbaju dengan perempuan itu. Dan teganya dia mengusirku sambil menjatuhkan talak.Sempat kupikir, mungkin suami begini karena aku tak kerja (lantaran hamil). Memang penghasilanku cukup lumayan. Bahkan dari hasil kerja kerasku bisa kubangun rumah, beli kendaraan, tanah, ternak sampai menyekolahkan saudara-saudara iparku.Aku tetap ingin mempertahankan rumah tanggaku. Subhanallah. Allah Maha Mendengar. Suamiku sadar kembali. Tapi inipun tak lama. Suamiku selingkuh lagi. Parahnya kini dia jadi tukang pukul. Tidak ada ujung pangkalnya, dia sering memukuliku. Dia tidak mau menyentuhku. Bahkan dengan tegas dia mau tinggal dengan simpanannya. Yang sangat menyakitkan, dia membawa anak anak kerumah kontrakan itu.Dihadapkan pada persoalan sebesar in, beruntung kepalaku tetap dingin. Perasaanku tetap tenang. Tidak mudah tersulut emosi. Aku sendiri heran, mengapa aku bisa sekuat ini. Ketika kuputuskan mendatangi suamiku, rasa cemburu dan amarah bisa kutekan. Malangnya, dia malah menjatuhkan talak, memaki dan menempelengku.Yang kusesalkan, ulah suamiku kali ini didukung bapak mertua dan saudara-saudaranya. bahkan bapak mertua rela menceraikan ibu mertuaku gara-gara ibu mmebelaku.Suamiku semakin gila. Kini dia berani membawa simpannnya kerumah. Bahkan berbuat mesum dikamar. Kutemukan suami sedang berzinah. Seketika itu juga aku pingsan. Dan disaat aku tak sadar, mereka sedang siap-siap kabur. Menyadari situasi yang membahayakan anaknya, bapak mertua membantu kabur sambil membawa anak-anakku. Aku heran, kenapa mertua mendukung anaknya dalam kemaksiatan?Begitu siuman muka dan badanku dihantam ketembok. Sampai bibirku sobek. Saat itu juga dia jatuhkan talak tiga. Aku berusaha mengiba agar dia jangan menceraikanku. Namun ia menjawabnya dengan tendangan. Ya Allah, kuabdikan diri ini untuk mereka, suami dan keluarganya. Karena kuanggap orangtuaku telah tiada. Namun tak satupun peghargaan diberikan atas pengorbananku.Tak kusangka tanpa sepengetahuanku rumah dan harta bendaku telah dibalik nama atasnama suami dan nama saudara saudaranya. Aku diusir. Setelah sebelumnya mereka mengeroyokku. Semua pintu rumah ditutup. AKu dicekik. Aku megap megap teriak minta tolong. Oh teganya mereka melakukan ini, padahal aku sedang hamil lagi. Mirisnya mertuaku tak percaya. Ia menuduhku bahwa itu bukan janin cucunya.Aku bingung mau kemana. Untuk beberapa saat aku hidup dari belas kasihan orang lain. Hingga akhirnya aku lari kepondok pesantren.Tak berapa lama kudengar kabar suami meninggal. Ia tewas tertembak saat sedang bertugas. Allah memisahkan kami saat kami belum berbaikan. Tapi sudah kuikhlaskan semua kelakuannya. Tidak ada kebencian sedikitpun terhadap dia. Kuanggap dia sedang tersesat dan harus dibimbing. Akupun berusaha berpikir positif. Kalau dia hidup hanya akan terus menerus berbuat dosa, lebih baik dia diambil Allah.Masa melahirkan semakin dekat. Aku tak ingin merepotkan orang lain. Termasuk pihak pesantren. Dengan berbagai pertimbangan, kucoba telpon kerumah. Tak diduga respon mereka baik. Bukan seperti yang kubayangkan. Mereka berjanji tidak akan menyiksaku jika aku pulang.LEPAS DARI MULUT HARIMAU, KEMBALI KE MULUT BUAYASambutan hangat benar-benar kurasakan saat kakiku kembali menginjak rumah. Terima kasih, ya Allah, mereka tulus menerimaku. Tidak ada yang mencurigakan. Tapi belum genap sebulan, penyiksaan gila itu terulang lagi. Bahkan kini lebih sadis.Aku tidak diberi makan, Kalaupun dusuguhi makanan, makanan itu makanan haram, seperti daging babi atau anjing. Dua anakku telah berhasil dibaptis. Sementara yang belum terus dibiasakan ke gereja.Aku berusaha mencuri kesempatan bercengkrama dengan anak anak. "Kakak dan adik saya nggak, sama mama?" tanyaku. Mereka mengangguk. AKu mewanti wanti. "Ingat ya nak, apa yang sedang kita lakukan disini adalah pura-pura. Pura pura kristen. Inga ya nak, kita ini orang Islam, sayang. Insya Allah, Allah selamatkan kita".Pilu tak tertahankan. Aku merasa sebatangkara. Tiada teman curhat. Aku ingin tumpahkan semua beban ini pada Allah. "Ya Allah... ingin sekali kugenggam tanganMU..". "Kenapa aku tidak dilahirkan dalam keadaan Islam saja!"YA ALLAH TOLONG KAMIKabur sedari dulu kurencanakan. Tapi penjagaan ketat membuatku tak berkutik. Lagi pula aku bingung mau kabur kemana? Tetapi kalau tidak lari mereka akan membaptis anak anakku. Aku khawatir akidah anak anak akan terkikis."Allahu Akbar.. Dia yang Maha Mendengar dan Melihat" membukakan jalan. Sehari sebelum dibaptis, hujan besar terus menerus. Dari pagi kemalam, hingga pagi lagi. Semua penghuni rumah terlelap. Biasanya mereka tidur diruang tengah sambil mengelilingi anak anakku. Tapi malam itu mereka masuk kamar masing masing.Kuajak anakku tiga orang. Sementara yang dua tidak bisa. Tak mungkin mereka kubawa lari semua, berjalan selama berkilo-kilo menuju kerumah saudaraku yang Islam. Sayangnya tidak satupun yang mau menerima kami, karena mereka tahu kondisi pengawasan terhadapku semakin gawat. Mereka takut keluargaku yang terpandang dan punya pengaruh besar itu mengamuk.Yang bisa mereka lakukan hanya memberi sumbangan ala kadarnya. Saat itu juga terkumpul dana 300 ribu rupiah. Aku disuruh kerumah saudara yang ada di pulau seberang. Maka malam itu juga kami ke dermaga. Malangnya kapal baru berlayar dua hari lagi. Oh jadi selama itu kami harus bermalam di dermaga.Perasaan haru dan bersalah tak bisa kututupi melihat ketiga buah hatiku. Yang kelas kelas 3 & 1 SD, serta yang berumur 1.5 tahun. Kami bertahan hidup dengan makan seadanya. Beruntung kedua anakku yang bersekolah sudah biasa puasa, sehingga dua bungkus nasi sudah cukup untuk makan sehari.Pelarianku kepulau seberang ini ternyata tak bisa bertahan lama. Kabar tentang keluargaku yang tahu akan keberadaanku membuat saudaraku dipulau itu panik. Mereka tahu dari daftar nama penumpang. Apa susahnya bagi kakakku tang tentara itu menyelidiki keberadaanku??Akhirnya kuputuskan untuk kembali kerumah mertua. Apapun resikonya. Yang terpenting bagiku saat itu adalah menyelamatkan aqidah anak-anakku. Meski mertua kejam kepadaku, tapi tidak kepada cucu-cucunya.Adapun pekerjaanku disebuah LSM Internasional kini sudah berakhir. Rupanya atasanku dekat dengan tanteku yang Katolik. Bosku membujuk agar aku kembali lagi ke Katolik. Aku ditawari rumah mewah dengan wilayah domisili dibeberapa negara hebat didunia. Bahkan dia akan membuat asuransi pendidikan buat anak-anakku agar dapat bersekolah sampai level tertinggi.Biarlah kesengsaraan menggelayutiku. Toh kedua tangan dan kakiku masih berfungsi. AKu akan cari kerja lagi. Aku ingin dapat tempat tinggal agar cepat bisa berkumpul dengan anak-anakku.Nun jauh dilubuk dasar hatiku terselip perasaan rindu dapa orang tuaku. Demi Allah, aku masih menyayangi mereka meski aku disisihkan dan disampakkan. Yang aku inginkan hanyalah pengertian mereka akan keputusanku memilih islam.Pernah kucuci kaki kedua orangtuaku dan kuminum air basuhannya. Tapi mereka bergeming. Dan akupun sama. Tak sejengkalpum kuubah pendirianku dan kembali keagama lama. Walau harus kehilangan segala-galanya, aku rela. Tapi aku tak rela jika Islam tercerabut dariku dan aku meninggal dalam keadaan murtad, tanpa menyebut nama Allah, tanpa zikir Laa Ilaaha Illa Allah... Aku tidak rela

Sabtu, 02 Februari 2008

Nabi Harun fasih berbicara

Nabi Harun fasih berbicara
RASUL seterusnya ialah Harun bin Imran bin Qahits bin Lawi bin Yaakub bin Ishak bin Ibrahim. Beliau ialah saudara seibu Nabi Musa, diutuskan untuk membantu Musa memimpin Bani Israel ke jalan yang benar.
Firman Allah bermaksud: “Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya sebahagian rahmat Kami, iaitu saudaranya, Harun menjadi seorang nabi.”
Harun dilahirkan tiga tahun sebelum Musa. Beliau yang fasih berbicara dan mempunyai pendirian tetap sering mengikuti Musa dalam menyampaikan dakwah kepada Firaun, Hamman dan Qarun.
Nabi Musa sendiri mengakui saudaranya fasih berbicara dan berdebat, seperti diceritakan al-Quran: “Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan) ku, sesungguhnya aku khuatir mereka akan berdusta.”
Sepanjang peninggalan Nabi Musa untuk bermunajat di Thur Sina, Harun juga diberikan amanah untuk mengawasi dan memimpin penduduk Bani Israel daripada melakukan kemungkaran, apa lagi menyekutukan Allah dengan benda lain.
Musa berkata kepada Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku dan perbaikilah, jangan kamu mengikuti jalan orang yang melakukan kerosakan.”
Bagaimanapun, sepanjang pemergian Musa ke Thur Sina, berlaku ujian terhadap Bani Israel. Sebilangan mereka menyekutukan Allah dengan menyembah anak lembu yang diperbuat daripada emas oleh Samiri.
Mereka menyembah patung lembu itu selepas terpedaya dengan tipu helah Samiri yang menjadikannya sehingga boleh bercakap. Harun sudah mengingatkan mereka kelakuan itu adalah dosa besar, namun segala nasihat dan amaran berkenaan tidak dipedulikan.
Selepas bermunajat selama 40 hari, Musa kembali kepada kaumnya dan sungguh terkejut dengan perbuatan menyembah patung lembu itu. Musa bukan saja marah kepada kaumnya, malah Harun sendiri turut ditarik kepala dan janggutnya.
Musa bertanya kepada Harun: “Wahai Harun, apa yang menghalangi engkau daripada mencegah mereka ketika engkau melihat mereka sesat? Apakah engkau tidak mengikut aku atau engkau menderhakai perintahku?”
Harun berkata: “Wahai anak ibuku, janganlah engkau renggut janggutku dan janganlah engkau tarik kepalaku, sesungguhnya aku takut engkau akan berkata, “engkau adakan perpecahan dalam Bani Israel dan engkau tidak pelihara perkataanku.”
Kemudian Musa mendapatkan Samiri, lalu berkata: “Pergilah kamu dari sini bersama pengikutmu. Patung sapi itu yang menjadi tuhanmu akan aku bakar, kemudian aku akan hanyutkan ke dalam laut. Kamu dan pengikutmu pasti mendapat seksa.”
Nabi Harun hidup selama 122 tahun. Beliau wafat 11 bulan sebelum kematian Musa, di daerah al Tiih, iaitu sebelum Bani Israel memasuki Palestin.Mengenai Bani Israel, mereka memang degil, banyak soal dan sukar dipimpin, namun dengan kesabaran Musa dan Harun, mereka dapat dipimpin supaya mengikuti syariat Allah, seperti terkandung dalam Taurat ketika itu.
Selepas Harun dan Musa meninggal dunia, Bani Israel dipimpin oleh Yusya’ bin Nun. Namun, selepas Yusya’ mati, lama-kelamaan sebilangan besar mereka meninggalkan syariat yang terkandung dalam Taurat.
Malah, ada kalangan mereka yang mengubah hukum di dalam kitab berkenaan, sehingga menimbulkan perselisihan dan perbezaan pendapat, akhirnya menyebabkan perpecahan Bani Israel.

ASAL KEJADIAN MANUSIA

"APAKAH Engkau akan menjadikan manusia yang akan melakukan kerosakan dan pertumpahan darah di dalamnya, sedangkan kami sentiasa bertasbih dan menyucikan Engkau,” demikian pertanyaan malaikat kepada Allah kerana terkejut dengan pengisytiharan-Nya yang mahu menciptakan Adam dan keturunannya sebagai khalifah di bumi.
Namun, selepas itu malaikat akur keputusan itu.
Kemudian Adam diciptakan, iaitu daripada tanah kering yang berasal daripada lumpur hitam. Daripada tanah, Allah menjadikan Adam berperingkat, kemudian meniupkan roh ke tubuhnya.
Akhirnya sempurnalah kejadian Adam sebagai manusia, merangkumi otak, darah dan daging, bebas bergerak dan bertindak mengikut kehendak dan akal fikiran.
Apabila penciptaan Adam sempurna, Allah memerintahkan semua malaikat sujud kepadanya sebagai memulia dan menghormatinya.
Perkara ini dapat dilihat melalui ayat 28 hingga 29 surah Yusuf, maksudnya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhan-Mu berfirman kepada malaikat; sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia daripada tanah liat kering, daripada lumpur hitam yang diberi bentuk. Apabila Aku menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku, tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”
Selepas itu Allah mengajarkan kepada Adam segala nama, yang menjadi asas ilmu pengetahuan sebagai bekalan hidup di bumi. Apabila Adam mendapat ilmu, Allah memperlihatkannya kepada malaikat, dia memiliki darjat yang tinggi dari segi ilmu berbanding malaikat.
Lalu malaikat berkata: “Sungguh kami menyucikan Engkau wahai Tuhan kami, kerana kami tidak mengetahui melainkan yang telah Engkau ajarkan kepada kami dan Engkau Maha Mengetahui segalanya, Maha Bijaksana dalam segala urusan yang Engkau ciptakan.”
Perkara ini dapat dilihat melalui surah al-Baqarah, ayat 31 hingga 33. Semua malaikat akur dengan perintah Allah dan sujud kepada Adam. Bagaimanapun, iblis dengan angkuh dan sombong enggan berbuat demikian.
Iblis memberikan jawapan kepada Allah kononnya dia lebih mulia daripada Adam. Menurut iblis, dia diciptakan daripada api, manakala Adam daripada tanah. Justeru, iblis menyangka dirinya lebih bermaruah dan mempunyai kedudukan tinggi daripada Adam. Melihat gelagat iblis yang bongkak itu, Allah melaknat iblis dan mengusirkannya dari syurga untuk selama-lamanya.
Hukuman itu menyebabkan iblis berdendam dengan Adam, lalu ia menyatakan permohonan kepada Allah supaya dipanjangkan usia sehingga hari kiamat. Iblis juga bersumpah untuk menyesatkan anak cucu Adam dari jalan yang benar, dengan mendatangi mereka (manusia) dari setiap penjuru untuk mengawasi kelemahan dan kecuaian mereka, sehingga mengheret ke lembah kesesatan dan derhaka kepada Allah.
Permohonan itu dikabulkan, namun Allah turut mengutuk iblis, melalui firmanNya: “Keluarlah kamu dari syurga ini dengan keadaan yang hina, kamu tidak akan mendapat rahmat-Ku dan Aku bersumpah akan memenuhi jahanam dengan kamu sekalian dan orang yang mengikutimu.”
Selepas iblis diusir dari syurga, Adam tinggal keseorangan dan pada satu ketika dia terlena. Ketika itu, Jibril mencabut tulang rusuknya di sebelah kiri, dibentukkannya menjadi daging dan tulang, seterusnya terciptalah Hawa, sebagai isteri. Perkara ini dinyatakan dalam surah al-Nisa, ayat 1.
Adam dan Hawa tinggal di syurga dengan segala kenikmatan. Namun, Allah melarang mereka dari mendekati sejenis pokok sekali gus menegah memakan buahnya. Mereka diberi amaran, jika melanggar larangan itu, mereka termasuk golongan yang zalim dan akan mendapat balasan daripada Allah.
Bagaimanapun, larangan itu tidak dipatuhi. Kemudian, semua pakaian dan perhiasan di syurga yang dipakai mereka terlepas, dengan tiada satu pun tertinggal, melainkan mahkota.
Sambil menangis, Adam menoleh kepada Hawa, lalu berkata: “Persiapkanlah dirimu untuk keluar dari sisi Allah. Inilah permulaan munculnya maksiat.”
Hawa menjawab: “Wahai Adam! Aku tidak pernah menyangka ada makhluk berani bersumpah palsu kepada Allah.”
Di syurga Adam sentiasa berlari kerana malu kepada Allah, sehingga Adam mengira azab Allah dipercepatkan, lalu dia menundukkan kepala dan berkata: “Ampun! Ampun.”
Lalu Allah berfirman: “Wahai Adam, adakah kamu melarikan diri dari-Ku?” Adam menjawab: “Tidak, tetapi aku malu kepada Engkau wahai Tuhan!”
Kemudian Allah mewahyukan kepada dua malaikat, supaya mengeluarkan Adam dan Hawa dari sisi-Nya, kerana telah menderhakai-Nya. Tanpa berlengah, Jibril melepaskan mahkota di kepala Adam, manakala Mikail mencabut mahkota di keningnya.
Selepas diturunkan dari tempat suci ke tempat yang penuh kelaparan, Adam menangisi kesalahannya selama seratus tahun. Dia sentiasa menundukkan kepala di atas kedua-dua lututnya, sehingga titisan air matanya membasahi bumi, menumbuhkan rumput dan pokok.
Wahab bin Munabbih menceritakan, Nabi Adam berada dalam kemurkaan Allah selama tujuh hari. Pada hari ketujuh Allah memanggilnya, kemudian memberikan wahyu kepadanya: “Wahai Adam, kesedihan apakah yang Aku lihat menimpamu hari ini? Bencana apakah menimpamu sehingga menyebabkanmu hanyut?“
Adam berkata: “Sungguh besar musibah, wahai Tuhan. Aku diliputi kesalahanku sendiri dan aku keluar dari kerajaan Tuhanku, sehingga aku berada di tempat kehinaan, sebelumnya aku berada dalam kemuliaan.
“Aku berada di tempat celaka, sebelumnya aku dalam kebahagiaan. Aku berada di tempat sukar, sebelumnya aku dalam kemewahan. Aku di tempat bencana, sebelumnya aku dalam keselamatan.
“Aku sekarang berada di tempat yang akn musnah setelah berada dalam ketenangan. Aku sekarang berada di tempat yang hancur setelah berada di tempat kekal abadi dan aku sekarang berada di tempat yang penuh penipuan setelah berada dalam keamanan. Tuhanku, tentu saja aku menangisi kesalahanku? Bagaimana mungkin aku tidak meratapi diriku sendiri?” Allah berfirman kepada Adam: “Bukankah Aku telah memilihmu untuk diri-Ku? Aku telah menghalalkan rumah-Ku untuk dirimu, Aku memilihmu atas semua makhluk-Ku, Aku mengkhususkan keramat-Ku terhadap dirimu, Aku mencurahkan kecintaan-Ku terhadap dirimu, Aku memberi peringatan kepadamu akan kemurkaan-Ku?
Bukankah Aku menciptakanmu sendiri, Aku telah meniupkan nyawa ke dalam tubuhmu, Aku memerintahkan malaikat supaya sujud dan bukankah Aku menjadikanmu sebagai pendamping-Ku di syurga-Ku.
Kamu menggunakan keramat-Ku sekehendakmu sendiri, sehingga kamu telah menderhakai perintah-Ku, kamu telah melupakan janji-Ku dan mensia-siakan wasiat-Ku? Bagaimana sekarang kamu akan memungkiri seksaan-Ku?
Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, seandainya bumi ini penuh dengan orang seperti kamu, di mana (mereka) sentiasa bertasbih malam dan siang tiada hentinya. Kemudian mereka menderhakai Aku. Aku akan memberikan tempat kepada mereka seperti tempat orang yang derhaka.
Sesungguhnya Aku mengasihani kelemahanmu, mengangkatmu dari kejatuhan, menerima taubatmu, mendengar permohonanmu yang tulus dan Aku mengampuni dosamu.”
Lalu disuruh-Nya Adam berkata: “Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau ya Allah dengan segala puji-Mu, aku telah menganiaya diriku sendiri dan aku melakukan kejahatan, terimalah taubatku. Sesungguhnya, Engkau Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Pengasih.”
Kemudian Allah mengirimkan kepada Adam sebuah khemah dan diletakkannya di tempat berdirinya Kaabah (sebelum Kaabah itu sendiri diciptakan). Di sanalah Adam tinggal dan seterusnya mengembangkan keturunannya.

NABI IDRIS AS

Malaikat maut kunjungi Nabi Idris
NABI dan Rasul kedua ialah Idris, seorang yang sabar dan mempunyai martabat inggi. Dia diutuskan Allah untuk memberikan petunjuk kepada keturunan Qabil supaya bertaubat daripada kekufuran.
Nabi Idris dan pengikutnya menyeru makhluk Allah untuk melakukan perkara baik dan mencegah kemungkaran.
Dia termasuk golongan rasul yang wajib diimani setiap orang Islam dan kisahnya dijelaskan Allah melalui al-Quran.
Misalnya, dalam surah Maryam: “Dan ceritakanlah (Hai Muhammad kepada mereka kisah) Idris (yang tersebut) di dalam al-Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.”
Nama penuhnya, Idris bin Yarad bin Mahlail. Keturunan daripada Syits bin Adam. Dia termasuk seorang nenek moyang Nabi Nuh, menjadi orang pertama dari keturunan Nabi Adam yang diberi darjat.
Pada masa remaja, Idris belajar dengan Syits dan ketika mencapai usia dewasa diangkat menjadi nabi, lalu dia mulai berdakwah dengan melarang kaumnya melanggar syariat Nabi Adam dan Syits, namun tidak ramai yang taat.
Kemudian dia berniat untuk berhijrah, meninggalkan negeri itu dengan menyeru bersama pengikutnya yang sedikit. Mereka keberatan meninggalkan negeri itu lalu berkata kepadanya: “Jika kita pergi dari sini, di mana lagi kita akan menemui negeri yang sama (Babil).”
Idris menjawab: “Jika kita berhijrah kerana Allah, kita akan mendapat rezeki lain.”
Kemudian, Idris dan pengikutnya berhijrah ke Mesir dan melihat Sungai Nil, lalu berhenti di sungai itu dan bertasbih kepada Allah. Selepas itu, mereka menyeru manusia supaya menyembah Allah dan berakhlak mulia.
Idris dan pengikutnya tinggal di Mesir selama 82 tahun kemudian Allah mengangkat ke sisi-Nya, seperti firman-Nya: “Dan kami mengangkatnya ke martabat yang tinggi.”
Nabi Idris adalah orang pertama yang menulis dengan kalam. Dia sempat berjumpa dengan Nabi Adam selama 308 tahun kerana umur Adam panjang, iaitu 1,000 tahun.
Ketika berdakwah, dia menggalakkan kehidupan zuhud, menyuruh umatnya melakukan solat, puasa, menunaikan zakat dan bersuci daripada hadas, selain mengharamkan minuman keras.
Dia adalah orang pertama yang mengajarkan ilmu politik peradaban dan menetapkan rancangan pembangunan kota. Setiap kumpulan dalam kaumnya mula membangunkan kota, hingga terbina 188 kota ketika itu.
Disebabkan amalan Nabi Idris banyak diterima setiap hari, dia diangkat ke syurga. Malaikat Maut sangat cinta dan merinduinya, lalu meminta izin daripada Allah untuk mengunjungi Idris.
Ketika Malaikat Maut yang menyerupai manusia mengunjungi Idris, dia ketika itu sedang berpuasa sepanjang tahun. Justeru, menjelang waktu berbuka, malaikat datang membawa makanan dari syurga untuk Idris.
Nabi Idris memang rajin melakukan ibadah. Pada satu ketika mengerjakan ibadah, Malaikat Maut menunggu di sampingnya, sehingga terbit fajar dan matahari. Malaikat Maut yang menyerupai lelaki itu masih duduk di sampingnya.
Kemudian mereka berjalan bersama dan meneruskan perjalanan selama empat hari dan sepanjang tempoh itu Nabi Idris melihat banyak keanehan daripada malaikat berkenaan, yang sangat berbeza dengan manusia biasa.
Oleh itu Idris bertanya: “Siapakah engkau ini sebenarnya?”
Malaikat Maut menjawab: “Saya Malaikat Maut.”
Idris bertanya: “Apakah engkau ini yang akan mencabut nyawa setiap orang?”
Malaikat berkata: “Ya”
Idris bertanya lagi: “Selama empat hari engkau bersamaku, apakah engkau juga mencabut nyawa orang?”
Malaikat Maut menjawab: “Ya, saya mencabut beberapa nyawa dan sesungguhnya jiwa makhluk itu untukku, sama seperti hidangan di depan saya atau seperti engkau menghadapi sesuap makanan.”
Nabi Idris berkata: “Wahai Malaikat Maut, apakah engkau datang ini sekadar berkunjung atau mencabut nyawa saya?”
Malaikat berkata: “Saya datang hanya untuk berkunjung dengan izin Allah.
Idris berkata: “Wahai Malaikat Maut, saya mempunyai keinginan denganmu.”
Malaikat berkata: “Apakah keinginan itu?”
Idris berkata: “Keinginan saya, supaya engkau mencabut jiwa saya, kemudian Allah menghidupkan saya kembali, sehingga saya dapat beribadah kepada Allah selepas saya merasakan sakratulmaut.”
Malaikat berkata: “Sesungguhnya saya tidak mencabut nyawa seseorang, melainkan dengan izin Allah.”
Selepas itu Allah memberikan wahyu supaya mencabut nyawa Nabi Idris. Malaikat Maut mencabut nyawa Nabi Idris ketika itu juga dan Idris meninggal seketika. Malaikat Maut menangis dan memohon ampun kepada Allah, supaya Dia menghidupkan kawannya (Idris).
Allah menerima permintaan itu, lalu menghidupkan kembali Nabi Idris. Kemudian malaikat berkata: “Wahai saudaraku, bagaimana rasanya maut yang engkau hadapi?”
Idris berkata: “Sesungguhnya, seperti terkupas kulit dalam keadaan hidup, rasa sakit menghadapi maut itu lebih 1,000 kali gandanya.”
Malaikat berkata: “Secara hati-hati dan tidak kasar yang saya lakukan khusus mencabut nyawa engkau itu, belumlah pernah saya lakukan terhadap orang lain.”
Kemudian Nabi Idris juga diberikan keizinan bersama Malaikat Maut meninjau neraka jahanam dan syurga.
Apabila dapat masuk ke syurga, dia meletakkan kasutnya di bawah pokok. Kemudian dia keluar dari syurga, lalu berkata: “Wahai Malaikat Maut, kasut saya tertinggal di dalam syurga, hantarkan saya ke dalamnya.”
Lalu dihantar kembali Nabi Idris ke syurga dan kali ini dia tidak mahu keluar. Malaikat Maut berkata: “Wahai Idris, keluarlah.”
Dijawabnya Idris: “Saya tidak akan keluar kerana Allah sudah berfirman, setiap orang itu merasakan sakratulmaut. Dan sesungguh saya sudah merasakan maut.
Kemudian, Allah mewahyukan kepada malaikat, supaya meninggalkan Idris: “Tinggalkanlah dia (Idris), sesungguhnya Aku telah memutuskan pada zaman penciptaannya dulu, sesungguhnya dia (Idris) termasuk ahli dan keluarga syurga.”